Bagi sebagian besar orang, melukat mungkin dikenal sebagai tren healing estetik saat berlibur ke Bali. Gambaran seseorang yang berdiri di bawah pancoran air jernih dengan latar belakang pura yang magis sering kali menghiasi media sosial. Namun, di balik kesegaran air dan ketenangan yang ditawarkannya, melukat menyimpan narasi sejarah yang sangat panjang, mendalam, dan sakral.
Ritual ini bukan sekadar tradisi tanpa arah, melainkan sebuah warisan spiritual yang memiliki landasan teologis dan historis yang kuat. Mengapa air menjadi media utama? Siapa tokoh yang pertama kali menanamkan ajaran ini di tanah Bali, dan sejak kapan tradisi ini dimulai? Yuk, kita kupas tuntas sejarahnya dengan bahasa yang santai tapi tetap sarat ilmu.
Filosofi Dasar: Mengapa Harus Menggunakan Air?
Sebelum masuk ke lini masa sejarah, kita perlu memahami logika di balik ritual ini. Melukat berasal dari kata Lukat dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti melepaskan, membersihkan, atau memurnikan. Dalam konsep kosmologi Hindu, air (Tirta) bukan sekadar senyawa kimia $H_2O$, melainkan elemen alam yang suci dan memiliki energi keibuan (Prakriti) yang mampu menghanyutkan kotoran, baik yang bersifat fisik (Sekala) maupun metafisik (Niskala).
Secara tekstual, konsep pembersihan dengan air ini sudah tercantum dalam kitab suci kuno seperti Manawa Dharmasastra. Di sana disebutkan sebuah prinsip dasar:
“Adbhir gatrani suddhyanti, manah satyena suddhyanti.”
Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air, sedangkan pikiran dibersihkan dengan kejujuran/kebenaran.
Dari sinilah konsep melukat lahir. Air digunakan sebagai sarana fisik untuk memicu pembersihan spiritual di dalam jiwa manusia.
Asal-Usul dan Tokoh di Balik Ajaran Melukat
Jika ditarik garis lurus ke belakang, tradisi melukat di Bali tidak bisa dipisahkan dari proses masuknya pengaruh Hindu-Buddha dari Pulau Jawa, yang akarnya berasal dari India. Namun, dalam konteks spesifik Pulau Bali, ada dua tokoh besar (Rishi) yang meletakkan batu pertama ajaran spiritual ini:
1. Rsi Markandeya (Abad ke-8 Masehi)
Tokoh pertama yang membuka gerbang spiritualitas Bali adalah Rsi Markandeya, seorang pertapa suci asal India yang sempat menetap di Gunung Dieng dan Gunung Raung di Jawa, sebelum akhirnya melakukan perjalanan besar ke Bali sekitar abad ke-8 Masehi.
Beliau adalah sosok yang membuka hutan belantara di Bali (yang kini kita kenal sebagai kawasan Ubud dan Campuhan) serta mendirikan Pura Besakih. Rsi Markandeya mengajarkan masyarakat lokal cara menghormati kekuatan alam dan memanfaatkan mata air suci (pancoran) yang ada di sekitar lereng gunung untuk sarana pembersihan diri dan pengobatan. Ini adalah cikal bakal paling awal dari aktivitas melukat di alam terbuka.
2. Dang Hyang Nirartha / Pedanda Sakti Wawu Rauh (Abad ke-16 Masehi)
Jika Rsi Markandeya adalah peletak batu pertama, maka Dang Hyang Nirartha adalah tokoh yang melakukan “kodifikasi” atau merapikan sistem ritual di Bali pada abad ke-16 (sekitar tahun 1550-an), di masa runtuhnya Kerajaan Majapahit.
Beliau berkeliling Bali dan menata kembali konsep Pura Tirta (pura yang memiliki sumber air suci). Dang Hyang Nirartha-lah yang mengajarkan bahwa melukat tidak hanya sekadar mandi di mata air, tetapi harus diiringi dengan doa khusus (mantram) dan sarana sesajen (upakara) seperti canang sari. Beliau merumuskan bahwa air alam baru menjadi Tirta (air suci) setelah melalui proses didoakan oleh seorang pendeta atau pemimpin ritual.
Lini Masa Sejarah: Kapan Melukat Mulai Dipraktikkan?
Untuk mempermudah pemahaman, mari kita bagi sejarah perkembangan melukat ke dalam tiga era besar:
Abad ke-10 Masehi: Era Kerajaan Warmadewa
Salah satu bukti arkeologis tertua mengenai pemanfaatan air suci untuk penyucian diri ada di Pura Tirta Empul, Tampaksiring. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, situs mata air ini dibangun pada tahun 962 Masehi di bawah pemerintahan Raja Sri Candrabhaya Warmadewa.
Pada zaman ini, melukat dipraktikkan oleh kalangan istana dan masyarakat sebagai ritual penyembuhan setelah perang, serta ritual tolak bala (menghindari kutukan atau wabah penyakit).
Abad ke-14 hingga 16 Masehi: Era Eksodus Majapahit
Ketika pengaruh Kerajaan Majapahit bergeser ke Bali, para bangsawan, seniman, dan pendeta membawa tradisi pemurnian diri yang biasa dilakukan di petirtaan Jawa (seperti Candi Tikus atau Jolotundo). Di Bali, tradisi ini berasimilasi secara sempurna dengan kepercayaan lokal (Animisme dan dinamisme pembaca alam) sehingga menghasilkan ritual melukat yang sangat spesifik seperti yang kita lihat sekarang.
Abad ke-21: Era Modern dan Pariwisata Spiritual
Memasuki era modern, terjadi pergeseran paradigma. Melukat yang dulunya murni merupakan ritual keagamaan internal umat Hindu Bali, kini berkembang menjadi bagian dari Spiritual Tourism (wisata spiritual).
Sejak awal tahun 2000-an, dan semakin masif di era media sosial pasca-2010, melukat diadopsi oleh masyarakat global sebagai metode healing, mindfulness, dan terapi kesehatan mental untuk mengatasi stres modern.
Jenis-Jenis Melukat dalam Catatan Lontar Kuno
Agar tidak keliru, dalam naskah-naskah lontar kuno Bali (seperti Lontar Dharma Kahuripan), melukat sebenarnya dibagi menjadi beberapa jenis tergantung pada tujuannya. Berikut adalah jenis yang paling sering dipraktikkan:
- Melukat Astapada: Pembersihan yang bertujuan untuk menghilangkan penyakit fisik kronis yang sulit disembuhkan secara medis.
- Melukat Gni Liyep: Bertujuan untuk meredam sifat marah, egois, dan emosi negatif yang berlebihan dalam diri manusia.
- Melukat Prabu / Jayanegara: Tradisi melukat yang khusus dilakukan oleh para pemimpin atau pejabat jaman dulu sebelum naik takhta, dengan tujuan agar diberikan kebijaksanaan dalam memimpin.
- Melukat Sudamala: Pembersihan dari noda batin atau trauma masa lalu, agar jiwa kembali menjadi suci (suda) dan terbebas dari hal buruk (mala). Jenis inilah yang paling sering dicari oleh para traveler modern saat ini.
Kesimpulan: Warisan Masa Lalu untuk Ketenangan Masa Kini
Sejarah panjang melukat membuktikan bahwa ritual ini bukanlah sebuah tren kosong yang diciptakan untuk kebutuhan visual media sosial semata. Melukat adalah hasil evolusi spiritual selama ribuan tahun, yang diwariskan oleh para resi suci sejak abad ke-8 dan dirawat oleh masyarakat Bali hingga hari ini.
Meskipun zaman sudah berubah menjadi serba digital dan modern, esensi dari melukat tetap sama: pengingat bagi manusia untuk selalu berhenti sejenak, membersihkan diri dari polusi pikiran, dan kembali menyelaraskan diri dengan energi murni yang disediakan oleh alam semesta.